SINOPSIS ARTI SAHABAT EPISODE 15, 25 Juli 2010
Di rumah Vita, handphone Lisa berdering terus. Vita berteriak memanggil Lisa tapi Lisa tidak juga datang. Akhirnya, Vita pun memutuskan sambungannya, eh, malah di handphone Lisa banyak banget foto Yudha sama Ajeng sedang bermain layangan. Vita kaget bercampur heran. Ketika Lisa datang, Vita langsung melepaskan handphone temannya itu dan pura-pura tidak tahu apa-apa. Ia pun mengatakan tadi ada telepon tapi Lisa tidak datang-datang.
Vita menjauh dari Lisa untuk menelepon Yudha. Yudha pun datang ke rumah Vita, dan Vita memberi tahu tentang foto-foto Yudha bersama Ajeng di handphone Lisa. Yudha kaget bukan main, ternyata orang yang mengirim mms mencurigakan itu adalah Lisa. Yudha bilang dia bakal nembak Ajeng, tapi Angel yang mendengarnya sewot. Dia gak ingin sahabatnya, dijadikan pacar oleh Yudha. (aku gak begitu inget adegan ini)
Vita datang ke Lisa dan memarahinya. Dia melempar handphone Lisa. Tidak lama kemudian, Ajeng datang dan mengetahui masalah yang sebenarnya terjadi. Lisa langsung minta maaf ke Ajeng. Yudha bilang jangan memaafkan orang seperti Lisa. Tapi Ajeng yang polos memaafkan Lisa.
Beberapa saat kemudian, Vanessa datang dan berdiri di samping Ajeng. Yudha dab Vita kaget bukan main. Ajeng langsung memperkenalkan Vanessa ke teman-temannya. Ajeng menunjuk Yudha, dan berkata kalau Yudha adalah si kapten basket SMA 25 yang nyebelin itu.
“Hai baby boy! Long time no see…” seru Vanessa langsung berlari memeluk Yudha. Ajeng kaget dan tidak mengerti. Yudha melihat Ajeng ketika Vanessa memeluknya.
“Loe kenapa disini, bukannya di Amrik?” tanya Vita. Vanessa pun menjelaskan kedatangannya (apa sih alasannya?). Vita lalu menjelaskan ke Ajeng kalau Vanessa itu adalah teman satu SMP dengan dia dan Yudha.
“Gue pulang dulu, ya!” seru Yudha langsung buru-buru pergi. Ajeng curiga kalau diantara Yudha dan Vanessa ada sesuatu yang spesial.
Di jalan, Yudha berkata dalam hati, “Ngapain dia dateng kesini setelah gue berusaha ngelupainnya? Dia malah dateng!”
Beberapa masa yang lalu…
Yudha menembak Vanessa di sebuah taman. Dia membawa bunga di tangannya, tapi Vanessa bilang kalau dia tidak bisa soalnya dia ingin banget sekolah di Amerika.
Di rumah Vita, Vita ngomong ke Vanessa tentang Vanessa sudah membuat Yudha putus asa. Intinya, Vita itu marah ke Vanessa. Ajeng tidak sengaja mendengarnya, ternyata kecurigaannya benar kalau ada hubungan yang spesial antara Vanesa dan Yudha. Bahkan Yudha sendiri yang sudah menembak Vanessa tapi Vanessa menolak Yudha.
Ajeng melihat pantulan dirinya di cermin sambil membanding-bandingkan dirinya dengan Vanessa. Dia bilang kalau Vanessa itu cantik banget, pinter banget, kaya banget, sementara dirinya biasa banget.
Di sekolah, Marco sedang melihat foto-foto semalam di rumah Vita di laptopnya. Hingga akhirnya perhatiannya terhenti melihat foto ketika Fathir sedang ngeliatin Vita. Marco mulai curiga, tapi dia yakin Fathir orangnya baik. Sebelum ketahuan Angel, Marco langsung menghapus foto tersebut.
Di halaman, Marco menghampiri Fathir. Marco menyerahkan foto-foto tadi malam ke Fathir, dia bilang semua fotonya bagus-bagus, tapi dia harus menghapus satu foto. Fathir bertanya foto apa yang dihapus dan Marco menjawab kalau foto yang dihapusnya adalah ketika Fathir ngeliatin Vita. Fathir langsung menunduk. Dia kan memang mencintai Vita, bukan Angel. Marco bilang Fathir sudah meminta Angel menjadi pacarnya dan Angel adalah orang yang Marco sangat sayang, jadi Fathir jangan sampai bikin Angel patah hati. Marco lalu pergi setelah menepuk bahu Fathir.
Fathir berpikir kalau Marco dan Angel itu sama-sama baik. Jadi mereka harus bahagia. Dia pun punya rencana untuk menyatukan Marco dan Angel. Fathir langsung lari ke arah Marco, Fathir bilang kalau Marco hebat juga jadi fotografer, dan OSIS lagi butuh seorang fotografer. Marco menyanggupinya.
Fathir sedang makan jajanan di halaman sekolah bersama Angel. Fathir terlihat sedang termenung dan Angel bertanya ada apa. Fathir bilang kalau dia sedang butuh seorang redaksi, kalau fotografernya sudah ada. Angel tidak percaya kalau sejak tadi Fathir sedang memikirkan hal itu. Angel menawarkan diri untuk menjadi redaksi soalnya dia merasa pintar menulis. Fathir langsung menyambut baik.
Di kantor OSIS, Angel heran kenapa ada Marco. Marco yang ketika itu lagi megang kamera bilang kalau dialah fotografer untuk redaksi. Angel kecewa, soalnya dia harap fotografernya adalah Fathir agar dia dengan Fathir bisa lebih barengan. Fathir di balik pintu tersenyum kemenangan.
“Maaf ya, gue gak bermaksud membohongi loe, gue ingin loe berdua bahagia,” batin Fathir.
Ajeng sedang bergumam di tangga hingga akhirnya Yudha menghampirinya. Mereka saling ledek-ledekan. Yudha bilang Ajeng harus menjadi cewek konyol di perlombaan basketnya nanti, meneriaki nama Yudha. Ajeng menolaknya mentah-mentah.
Vita sedang berada di mobilnya bersama Kirana mencari tempat parkir di SMA Kartini. Kirana bilang disini pasti banyak cowok-cowok ganteng. Kirana lalu menunjuk tempat parkir yang kosong, tapi di belokan sebuah mobil Jeep berwarna hitam dengan nomor polisi B2384BP datang dan menabrak mobil Vita. Vita dan Kirana keluar dari mobilnya, cowok itu juga keluar dari mobil jeepnya. Mereka berantem. Saling menuntut kerugian hingga akhirnya, cowok itu memberikan Vita uang cukup banyak dari dompetnya. Lalu pergi. Vita tidak terima dan mengejar Mike, nama cowok tadi, dan menendangnya. Vita lalu mengembalikan uang dari cowok itu yang tadi diberikan untuknya, lalu memberikan uang lagi dari dompetnya lebih banyak lagi ke cowok tersebut.
Yudha sedang berjalan di SMA Kartini, dia sedikit kebingungan karena baru pertama kali ke sekolah tersebut. Vanessa datang dan menyambutnya. Intinya sih bicara tentang hubungan mereka. Yudha bilang jangan mendekatinya lagi soalnya dia sudah menghilangkan kenangannya bersama Vanessa dari otaknya. Lalu pergi. Vanessa berdiri sedih, dalam hatinya, “Andai loe tahu alasan gue ke Amrik”
Di koridor sekolah, Pak Roy menabrak Bu Amanda. Pak Roy bilang, mau di sekolah sendiri atau di sekolah orang lain mereka tetap tabrakan. Pak Roy menawarkan makan malam ke Bu Amanda, lalu mereka jalan ke arah yang berbeda. Pak Roy bergumam dalam hatinya kalau dia tahu pikiran cewek, jadi Bu Amanda pasti bakal nengok. Pak Roy menghitung sampai 5, tapi Bu Amanda gak nengok2. Pak Roy heran. Dan dia kembali menengok lagi. Eh, ternyata mereka sudah saling menengok/
Di tempat tanding basket, Yudha merasa tidak konsentrasi soalnya ada Vanessa disana. Dia merasa tidak bisa bertanding bagus kalau seperti ini, sementara ada Vanessa dan Ajeng. Yudha juga merasa perasaannya kacau banget karena terbagi dua seperti ini. Ajeng lalu datang dan menyemangatinya, Ajeng bilang kalau Yudha bukan main untuk dirinya sendiri. Tapi untuk sekolah juga. Yudha jadi semangat lagi dan bilang kalau dia akan main untuk dirinya, sekolah, dan terutama untuk Ajeng.
Ajeng menghampiri Vanessa yang sedang menangis di tangga (kebetulan Vanessa adalah ketua tim cheers dari SMA Kartini). Ajeng nanya, “Loe kenapa? Sakit? Kok sedih?” tanya Ajeng. Vanessa memohon ke Ajeng untuk mendekatkannya kembali dengan Yudha. Soalnya Cuma Ajeng yang dekat dengan Ajeng. Seorang anak SMA Kartini menghampiri Vanessa dan bilang kalau Vanessa sudah ditunggu.
Ketika mulai tanding basket, tim cheers SMA 25 lebih dahulu tampil. Tim cheers SMA Kartini melihatnya dengan meremehkan. Selanjutnya mereka yang tampil.
Mike datang dan melihat Vita. Vita kaget, dia baru tahu kalau si pangeran sombong itu adalah kapten tim basket dari SMA Kartini (aku curiga nih, pasti dia bakal jadi orang ketiga antara Fathir-Vita). Pertandingan basket pun dimulai, Yudha dan Mike saling hadap-hadapan. Para penonton bersorak mendukung sekolah mereka masing-masing. Sementara SMA 25 unggul 14-12.
Ketika, saat istirahat, tim cheers SMA Kartini hendak dance lagi. Vanessa gugup melihat Vita yang melihatnya dengan meremehkan, dia yang tadi sedang naik ke paha temannya pun jatuh dan pingsan. Yudha langsung berteriak memanggil Vanessa dan hendak membawanya ke UKS sekolah. Anak-anak memanggil Yudha tapi Yudha bilang dia bakal menyusul. Yudha menggendong Vanessa, sementara dia melihat Ajeng dari kejauhan dengan tatapan bekunya. (OMG, aku baru sadar Steven William itu ganteng banget)
Sabtu, 27 November 2010
Arti Sahabat Episode 14
Ajeng pun memeluk boneka dari Nakula, itu artinya menerimanya? Ajeng senyum-senyum kecil ketika seluruh orang di tempat itu bersorak sorai karena menerima cinta Nakula. Yudha yang berada di barisan belakang murid-murid yang berkerumun tidak terima. Dia pun langsung pergi dari tempat itu.
Setelah itu, para kru Bilang Cinta Dong menghampiri Fathir, mereka ingin mewawancarai Fathir karena Fathir adalah ketua OSIS (Bukannya Yudha?). Tapi Fathir memanfaatkan kesempatan itu untuk minta maaf sama Vita, soal Fathir sudah marah-marah sama Vita padahal Fathir sendiri salah paham. Dia pikir Vita sengaja menjebaknya tentang kejadian di perpustakaan beberapa hari lalu.
Di kamar Vita, kebetulan Vita pun menyalakan televisinya (Lah? Bukannya belum pulang?). Vita langsung terkejut ketika Fathir minta maaf padanya di televisi. Vita langsung beringsut mendekati tvnya yang cukup besar itu, dan memegang layarnya. “Loe bikin gue makin cinta ama loe, gimana mungkin sih gue benci ama loe?” gumam Vita seraya menatapi layar tv.
Sementara itu, Yudha masih kesal dengan kejadian Ajeng menerima cinta Nakula. Sambil stress dia bermain bola basket di lapangan basket sekolah, tapi bolanya gak masuk-masuk. (keren banget sih Yudha pas stress… kalau aku sih ngilangin stress sambil lari *siapa yang nanya?*). Bolanya pun menggelinding ke arah seseorang, yang tidak lain adalah Ajeng. Ajeng pun mengambil bolanya.
“Yudha…” sahut Ajeng. Tapi kayaknya Yudha masih kesal, hingga akhirnya Ajengpun menjelaskan kalau sebenarnya dia itu tidak menerima cinta Nakula. Dia cuma gak mau Nakula dipermalukan orang banyak, jadi ketika para kru dan anak-anak pergi Ajeng bicara ke Nakula kalau Ajeng gak bisa menerima cinta Nakula karena sudah ada orang yang dia suka. Yudha langsung sumringah, dia tahu kalau yang dimaksud Ajeng adalah dirinya.
“Selamat, ya. Gue juga udah punya orang yang gue suka,” kata Yudha. Mereka pun saling tatap-tatapan. Tiba-tiba ketika itu para kru malah datang, mereka bingung kenapa cewek yang ditembak Nakula malah sama Yudha. Akhirnya Yudha bilang kalau tadi itu cuma nembak bohong-bohongan, soalnya Ajeng itu cewek stress dan Nakula kasihan sama Ajeng. Yudha langsung pergi sementara Ajeng dikelilingi oleh para kru yang meminta penjelasan, Ajeng bilang kalau Yudha Cuma fitnah aja. LOL.
Ajeng mencoba lari dari kejaran kru, tapi di koridor sekolah dia malah menabrak Nakula. Ajeng langsung tidak nyaman, dia menaruh rambutnya ke belakang telinga. Sementara Nakula memegang tangan Ajeng, seraya memohon untuk memberinya kesempatan terakhir. Tapi Ajeng tetap menolaknya, karena Ajeng tidak ingin membohongi dirinya sendiri.
Di perkarangan sekolah Fathir bicara pada dirinya sendiri, dia takut kalau minta maafnya pada Vita tadi membuat Angel, pacarnya marah. Secara, Angel adalah musuh besar Vita dan Angel juga cemburuan banget. Ketika itu, Angel muncul dan Fathir tersentak. Ia mencoba menjelaskan kejadian tadi tapi Angel langsung memotong pembicaraannya dan bilang kalau Fathir itu gentle-man banget, karena sudah berani minta maaf di depan umum. Angel juga bilang kalau dia merasa dirinya sangat beruntung, karena diantara ratusan anak sekolah, Fathir memilih dirinya sebagai pacar.
Dalam hati Fathir, dia menyesal kenapa dia gak suka sama Angel. Tapi malah jatuh cinta sama orang yang seharusnya dia benci.
Siang harinya, di kantor Vita (dia juga kerja satu kantor sama Fathir), Vita bicara sendiri, dia bingung bagaimana menghadapi Fathir ketika Fathir datang nanti. Harus jual mahal atau enggak? Tidak lama kemudian, Fathir pun datang. Vita langsung bersiap ketika Fathir mendekatinya.
“Vita!”
“Gue udah tahu kok kamu mau ngomong apa!” kata Vita.
“Oh, bagus deh. Kalau gitu loe cepet ngopi proposal ini!” suruh Fathir seraya memberikan sebuah proposal pada Vita. Vita kaget, dia pikir kalau Fathir mau minta maaf padanya, eh, malah balik lagi jadi jutek.
Malam harinya, Angel sedang berada di rumah Fathir. Dia sedang menjaga Abel yang sedang sakit. Abel terbaring di atas kasur. Suara petir terdengar dari balik jendela, dan Abel langsung memeluk bonekanya erat-erat. Abel bilang kalau dia tidak akan kesepian kalau Angel harus meninggalkannya, karena ada boneka kesayangannya di sampingnya. Abel bilang dia sayang banget sama yang ngasih boneka (Vita). Dalam hati, Angel berpikir kalau Fathir itu kakak yang sangat baik, karena memberikan boneka itu pada Abel.
Tiba-tiba Abel batuk-batuk. Angel khawatir, sementara obat Abel semuanya habis. Angel pun memutuskan untuk pergi mencari obat. Walau dia harus hujan-hujanan.
Fathir dan Vita berteduh di bawah halte sepulang kerja, Vita bilang kalau Fathir sekarang pasti lagi mikirin Abel. Tapi Fathir tetap jutek. Vita mulai capek.
“Loe menerima maaf dia, gak?”
“Ya.., iyalah…” kata Vita.
“Bilang kek dari tadi! Cewek blo’on!” seru Fathir.
Tidak lama kemudian, taksi datang dari arah kira. Secara spontan Vita memberhentikannya. Sebelum masuk ke taksi dia bicara pada Fathir.
“Tadinya gue mau ngajakin loe pulang, tapi gue gak jadi. Loe nunggu aja disini sampai hujan reda. Sampai loe jadi blo’on!” seru Vita lalu masuk ke Taksi. Taksi pun melesat di jalan raya meninggalkan Fathir sendirian di halte.
“Gue terpaksa jutek sama loe, Vit! Gue takut perasaan gue berubah ke loe!” ucap Fathir setelah Vita pergi.
Sementara di dalam taksi, Vita bicara sendiri. “Kenapa sih susah banget suka sama loe, Fathir?”
Angel ikut berteduh di dekat halte tempat Fathir berteduh juga. Cuma mereka tidak saling bertemu. Fathir pun keburu pergi dari halte. Di bawah hujan, “Kenapa sih gue harus cinta ma Loe, Vit? Gw tau kita gak mungkin bersatu.” Teriak Fathir.
Sementara Angel juga bicara sendiri, (kebanyakan bicara sendiri nih. Maksudnya dalam hati kali, ya?) kalau dia harus segera ngasih obat ke Abel. Tidak lama kemudian, taksi pun datang dan Angel langsung memberhentikannya, lalu naik menuju rumah Fathir.
Ketika tiba di rumah, dengan baju masih basah kuyup, Fathir masuk ke kamar Abel dan mencium kening adik perempuannya itu. Dia lalu mendapati obat-obatan dan roti di meja dekat kasur Abel, dia juga melihat Abel memeluk boneka yang diberikan Vita untuk Fathir. Akhirnya, Fathir pikir Vita lah yang telah memberikan obat-obatan dan roti tersebut. “Gw makin gak bisa mengendalikan perasaan gw sama loe,” batinnya.
Di rumah Angel, Angel batuk-batuk. Sepertinya ia sakit. Sambil mengusap-ngusap handuk ke rambut yang basah, Angel bergumam tidak apa-apa kalau sakit, asal bisa makin dekat dengan Fathir (kalau Vita mah malah gak ingin Fathir tahu kalau dia dah berbuat baik ke Abel).
Keesokan harinya di sekolah, Fathir bingung dia berterimakasih pada Vita atau tidak. Soalnya, dia kan lagi berusaha jutek sama Vita. Tiba-tiba, Vita datang dari arah berlawanan, Vita berjalan mendekat ke arah Fathir, dan mereka saling tatap-tatapan. Tapi Vita langsung membuang pandangannya ke arah lain.
Angel muncul di belakang Fathir, dia tersenyum-senyum sendiri dan berharap Fathir akan berterima kasih padanya. Dia pun menghampiri Fathir.
“Tumben datang pagi-pagi!” seru Angel.
“Iya, gue kantor OSIS dulu, ya,” kata Fathir langsung meninggalkan Angel. Angel kecewa sekaligus heran, kenapa Fathir tidak berterimakasih kepadanya?
Di koridor sekolah, Ajeng bergumam, kalau sebentar lagi lomba Karya Ilmiah. Dia deg-degan. Yudha datang dari arah berlawanan, dia menghampiri Ajeng tapi tidak bicara apa-apa kepadanya. Sebenarnya dia sedang memasukkan sebuah amplop ke dalam tas Ajeng, hanya saja Ajengnya tidak sadar. Yudha pergi setelah itu, dia berdiri di belakang Ajeng yang memunggunginya. Ajeng heran, seharusnya Yudha bicara apa kek kepadanya, karena Ajeng akan lomba karya Ilmiah. Tapi Yudha malah gak bicara apapun, Ajeng pikir jangan-jangan cewek yang Yudha sukai bukan dia. Ajeng pun langsung melangkah pergi.
Di dalam kelas, Yudha bergumam kalau dia harus datang ke lomba KIR Ajeng. Sementara dia terjebak dalam mata pelajaran geografi. Dia pun punya akal dan melempar kertas ke arah Nakula. Nakula membacanya dan membisiki sesuatu ke Aldo. Tiba-tiba, Nakula menggebrak meja dan marah-marah ke Aldo. Dia berteriak kalau dia gak bermaksud merebut pacar Aldo. Aldo tidak kalah sengit. Seluruh mata di kelas teralihkan, terutama si guru geografi. Si guru pun langsung melerai Aldo dan Nakula, Yudha memanfaatkan kejadian itu untuk kabur dari kelas. Tapi sialnya, di luar kelas ada KepSek lagi menelepon. Yudha pun tidak jadi keluar kelas dan masuk lagi. Ia ingin keluar lewat jendela tapi tetap ketahuan KepSek.
Kala itu mentari bersinar, memanggang Yudha, Aldo, dan Nakula yang sedang lari-lari mengelilingi lapangan, karena dihukum KepSek. Aldo dan Nakula mengeluh ke bosnya, Sudah gagal, ketahuan pula! Mereka bertanya ada apa tapi Yudha tidak bisa menjelaskannya karena tidak ingin menghancurkan hati Nakula. Yudha cuma bisa mendukung dari jauh, sementara Ajeng, walau deg-degan, dia tetap harus bersemangat untuk lomba KIR ini.
Di saat yang bersamaan, Yudha dan Ajeng berseru, “SEMANGAT!” (Kompak terus nih… Hehe.)
Di perpustakaan, Angel sedang menulis sambil terbatuk-batuk. Fathir langsung menghampirinya dan bertanya ada apa? Angel bilang kalau dia sedang menulis catatan untuk Fathir, Angel mengerti kalau Fathir sibuk dengan OSIS jadi tidak sempat mencatat.
“Ya ampun, kamu mencatat sebanyak ini untuk gue?” tanya Fathir. Dia merasa kalau Angel itu baik banget, sementara dia malah tidak menyukainya. Angel lalu terbatuk-batuk lagi, dan Fathir kembali bertanya ada apa? Angel bilang kalau ini karena hujan-hujanan membeli obat untuk Abel. Fathir tersentak. Angel lalu bertanya kabar Abel, apakah Abel baik-baik saja?
Fathir masih terkejut karena ternyata yang membeli obat-obatan itu adalah Angel. Fathir pun memegang dagu Angel yang sedang duduk itu, dan bilang kalau Fathir akan beli obat. Intinya sih khawatir. Tidak lama kemudian, Angel datang dan dia mendehem ke arah mereka. Keduanya tersentak.
“Angel, kamu dipanggil Bu Amanda di Aula,” kata Vita. Lalu pergi.
Di tempat lomba KIR, Ajeng masih terus deg-degan. Cewek disampingnya langsung ngasih dia permen, dan bilang kalau makan permen itu bisa menghilangkan rasa gugup. Mereka pun berkenalan. Ajeng melihat penampilan cewek itu, kayaknya Vaness itu tajir banget. Vanessa, nama cewek itu, bilang kalau dia gugup sekali karena baru pulang dari Amerika. Secara, mata pelajaran di Amerika beda sama di Indonesia. Ajeng makin berdecak kagum, dan bilang kalau Vanessa itu pinter banget. Vanessa cuma tersenyum. Ajeng lalu bertanya Vanessa SMA dimana? Vanessa bilang, SMA Kartini. Kamu sendiri? Ajeng jawab kalau dia SMA di SMA 25. Vanessa terkejut ketika Ajeng bilang tentang SMA 25.
“Katanya kapten basket SMA 25 itu nyebelin banget, ya?” tanya Vanessa. Ajeng mengiyakan, kalau Yudha, si kapten basket emang nyebelin banget. Vanessa lalu minta alamat dan nomor ponsel Ajeng, Ajeng bilang sebentar seraya membuka tasnya. Eh, malah melihat amplop coklat. Karena penasaran, Ajeng membuka amplop surat tersebut. Isinya, foto Yudha lagi megang bola basket. Di bawahnya ada tulisan dari spidol: Kalau loe liat foto ini, loe pasti jadi semangat dan seneng lagi. (kira-kira gitu. Aduh, narsis amat…). Ajeng tersenyum, dan Vanessa bilang kalau dia sok-sokan banget. Ajeng mengiyakan.
Sementara, di Aula, Bu Vanessa bersama anak cheerleaders menyuruh anak-anak bikin proposal untuk acara PENSI. Karina menyarankan kalau mereka buat proposalnya di rumah Vita aja, soalnya bokapnya Vita lagi sering ke luar negeri. Vita menolak kalau membayangkan Angel menginap bersamanya, Angel juga. Mereka secara bersamaan protes ke Bu Amanda. Tapi Bu Amanda malah sangat setuju.
Ketika Ajeng lagi nunggu angkot untuk pulang dari lomba KIR, sebuah mobil berwarna silver dengan nomor polisi B1949UFA menepi di depannya. Kaca depan mobil itu dibuka, itu Vanessa. Dia menawarkan Ajeng pulang bersamanya, Ajeng bilang kalau dia senang punya teman baik kayak Vanessa. Ajeng pun masuk ke dalam mobil silver tersebut.
Di Rumah Vita, Angel bilang semoga proposal ini bisa cepat selesai biar mereka gak usah lagi nginep di rumah Vita. Vita juga bilang semoga proposalnya cepat selesai biar mereka gak usah lagi nginep di rumahnya. Kirana bilang mereka itu kayak anjing sama kucing aja berantem terus.
Tak lama kemudian, terdengar suara bel, Vita langsung menuju pintu untuk membukanya. Sementara Angel mulai batuk lagi dan ingin mengambil air minum dari dapur. Ketika Vita membuka pintu, ternyata itu Fathir yang ingin memberinya proposal yang harus diselesaikan. Mereka berdiri canggung-canggungan. Vita pikir Fathir tidak juga pergi karena tahu ada pacarnya disini. Angel melihat mereka berdua ketika hendak membuka kulkas, dan segera menghampiri mereka.
Karena Angel, Fathir pun tidak segera pulang. Ia terjebak diantara cewek-cewek. Sementara, Angel menghampiri Vita dan bertanya kepadanya, kenapa Vita tidak beritahu Angel kalau Fathir datang? Apa mungkin Vita sengaja? Vita bilang kehadiran Fathir itu gak ngaruh. Lagian rumah ini rumah Vita, jadi terserah Vita. Vita juga bilang kalau rumahnya bukan tempat pacaran. Angel bilang, dia bisa mengusir Fathir kapanpun dia mau.
Angel langsung menghampiri Fathir dan bilang sebaiknya Fathir pulang aja deh. Banyak cewek, gak enak. Fathir langsung menyambut baik, dia juga gak nyaman. Tapi Kirana menahan Fathir dan bilang kalau Angel masih sakit, Fathir harus merawat Angel.
Di rumah Ajeng, Vanessa dan Ajeng lagi ngobrol. Vanessa bilang kalau Ajeng pasti pintar masak. Ajeng bilang kalau rumahnya biasa aja. Tapi Vanessa bilang asalkan penghuninya penuh cinta, rumah ini lebih nyaman. Ajeng bilang kalau Vanessa itu perfect banget, Vanessa bilang kalau gak segitunya juga. Ajeng bilang kalau Vanessa itu beruntung banget, Vanessa bilang kalau dia tidak seberuntung itu. Tapi dia juga tidak ingin banyak mengeluh. Vanessa bilang bagaimana kalau Ajeng menginap di rumahnya aja, soalnya orang tuanya sedang pergi. Ajeng bilang dia harus minta izin tantenya dulu. Vanessa bilang dia bakal bantu.
Di rumah Vita, Angel dan Fathir duduk berdempetan. Mereka kerap diledekin sama cewek-cewek cheerleaders itu. Fathir lalu menyuapi obat ke Angel, ketika itu Vita datang dan memotret mereka. Fathir dan Angel tersentak kaget. Vita lalu bersorak kalau foto itu bakal dipajang di mading sebagai The Best Couple. Vita lalu pergi menjauh dan melihat foto itu sambil menangis, dia bergumam dalam hati kalau dia sudah capek dan ingin berdamai dengan keadaan (sedih…).
Ajeng dan Vanessa menghampiri mobil Vanessa. Ajeng berkata gak nyangka tantenya mengizinkan dia nginep di rumah Vanessa. Mereka pun masuk mobil dan meninggalkan halaman. Setelah itu, Yudha datang dengan motornya. Dia mengetuk pintu berharap ketemu Ajeng tapi gak ada yang menyahut (emang tantenya Ajeng gak ada?). Yudha lalu menelpon Ajeng tapi ponsel Ajeng gak aktif (ponsel Yudha dah ganti. Hehe.).
Di rumah Vita, Marco datang memberikan sesuatu ke anak cheerleaders. Lalu ingin segera pergi tapi ditahan Fathir, Fathir bilang kalau dia ingin ditemenin soalnya disitu cewek semua. Marco awalnya gak mau tapi terus didesak Fathir.
Tidak lama kemudian, Vita bilang dia ngundang satu teman lagi. Dan Lisa muncul tapi semuanya lagi bete sama Lisa. Vita bilang, kita harus bisa memaafkan Lisa. Fathir kagum sama Vita, biarpun Vita cewek manja tapi Vita itu punya hati yang lapang. Vita kembali meramaikan suasana dengan menyuruh Fathir dan Marco menari seperti cheerleaders. Vita pun menggerak-gerakkan lengan Fathir, dan Angel terlihat cemburu.
Beberapa saat kemudian, ponsel Lisa berdering. Vita memanggil Lisa tapi Lisa gak juga datang. Akhirnya Vita memutuskan sambungannya, eh, malah ada foto-foto Ajeng sama Yudha lagi main layangan. Vita heran bukan main. Dan ketika itu Lisa datang…
Setelah itu, para kru Bilang Cinta Dong menghampiri Fathir, mereka ingin mewawancarai Fathir karena Fathir adalah ketua OSIS (Bukannya Yudha?). Tapi Fathir memanfaatkan kesempatan itu untuk minta maaf sama Vita, soal Fathir sudah marah-marah sama Vita padahal Fathir sendiri salah paham. Dia pikir Vita sengaja menjebaknya tentang kejadian di perpustakaan beberapa hari lalu.
Di kamar Vita, kebetulan Vita pun menyalakan televisinya (Lah? Bukannya belum pulang?). Vita langsung terkejut ketika Fathir minta maaf padanya di televisi. Vita langsung beringsut mendekati tvnya yang cukup besar itu, dan memegang layarnya. “Loe bikin gue makin cinta ama loe, gimana mungkin sih gue benci ama loe?” gumam Vita seraya menatapi layar tv.
Sementara itu, Yudha masih kesal dengan kejadian Ajeng menerima cinta Nakula. Sambil stress dia bermain bola basket di lapangan basket sekolah, tapi bolanya gak masuk-masuk. (keren banget sih Yudha pas stress… kalau aku sih ngilangin stress sambil lari *siapa yang nanya?*). Bolanya pun menggelinding ke arah seseorang, yang tidak lain adalah Ajeng. Ajeng pun mengambil bolanya.
“Yudha…” sahut Ajeng. Tapi kayaknya Yudha masih kesal, hingga akhirnya Ajengpun menjelaskan kalau sebenarnya dia itu tidak menerima cinta Nakula. Dia cuma gak mau Nakula dipermalukan orang banyak, jadi ketika para kru dan anak-anak pergi Ajeng bicara ke Nakula kalau Ajeng gak bisa menerima cinta Nakula karena sudah ada orang yang dia suka. Yudha langsung sumringah, dia tahu kalau yang dimaksud Ajeng adalah dirinya.
“Selamat, ya. Gue juga udah punya orang yang gue suka,” kata Yudha. Mereka pun saling tatap-tatapan. Tiba-tiba ketika itu para kru malah datang, mereka bingung kenapa cewek yang ditembak Nakula malah sama Yudha. Akhirnya Yudha bilang kalau tadi itu cuma nembak bohong-bohongan, soalnya Ajeng itu cewek stress dan Nakula kasihan sama Ajeng. Yudha langsung pergi sementara Ajeng dikelilingi oleh para kru yang meminta penjelasan, Ajeng bilang kalau Yudha Cuma fitnah aja. LOL.
Ajeng mencoba lari dari kejaran kru, tapi di koridor sekolah dia malah menabrak Nakula. Ajeng langsung tidak nyaman, dia menaruh rambutnya ke belakang telinga. Sementara Nakula memegang tangan Ajeng, seraya memohon untuk memberinya kesempatan terakhir. Tapi Ajeng tetap menolaknya, karena Ajeng tidak ingin membohongi dirinya sendiri.
Di perkarangan sekolah Fathir bicara pada dirinya sendiri, dia takut kalau minta maafnya pada Vita tadi membuat Angel, pacarnya marah. Secara, Angel adalah musuh besar Vita dan Angel juga cemburuan banget. Ketika itu, Angel muncul dan Fathir tersentak. Ia mencoba menjelaskan kejadian tadi tapi Angel langsung memotong pembicaraannya dan bilang kalau Fathir itu gentle-man banget, karena sudah berani minta maaf di depan umum. Angel juga bilang kalau dia merasa dirinya sangat beruntung, karena diantara ratusan anak sekolah, Fathir memilih dirinya sebagai pacar.
Dalam hati Fathir, dia menyesal kenapa dia gak suka sama Angel. Tapi malah jatuh cinta sama orang yang seharusnya dia benci.
Siang harinya, di kantor Vita (dia juga kerja satu kantor sama Fathir), Vita bicara sendiri, dia bingung bagaimana menghadapi Fathir ketika Fathir datang nanti. Harus jual mahal atau enggak? Tidak lama kemudian, Fathir pun datang. Vita langsung bersiap ketika Fathir mendekatinya.
“Vita!”
“Gue udah tahu kok kamu mau ngomong apa!” kata Vita.
“Oh, bagus deh. Kalau gitu loe cepet ngopi proposal ini!” suruh Fathir seraya memberikan sebuah proposal pada Vita. Vita kaget, dia pikir kalau Fathir mau minta maaf padanya, eh, malah balik lagi jadi jutek.
Malam harinya, Angel sedang berada di rumah Fathir. Dia sedang menjaga Abel yang sedang sakit. Abel terbaring di atas kasur. Suara petir terdengar dari balik jendela, dan Abel langsung memeluk bonekanya erat-erat. Abel bilang kalau dia tidak akan kesepian kalau Angel harus meninggalkannya, karena ada boneka kesayangannya di sampingnya. Abel bilang dia sayang banget sama yang ngasih boneka (Vita). Dalam hati, Angel berpikir kalau Fathir itu kakak yang sangat baik, karena memberikan boneka itu pada Abel.
Tiba-tiba Abel batuk-batuk. Angel khawatir, sementara obat Abel semuanya habis. Angel pun memutuskan untuk pergi mencari obat. Walau dia harus hujan-hujanan.
Fathir dan Vita berteduh di bawah halte sepulang kerja, Vita bilang kalau Fathir sekarang pasti lagi mikirin Abel. Tapi Fathir tetap jutek. Vita mulai capek.
“Loe menerima maaf dia, gak?”
“Ya.., iyalah…” kata Vita.
“Bilang kek dari tadi! Cewek blo’on!” seru Fathir.
Tidak lama kemudian, taksi datang dari arah kira. Secara spontan Vita memberhentikannya. Sebelum masuk ke taksi dia bicara pada Fathir.
“Tadinya gue mau ngajakin loe pulang, tapi gue gak jadi. Loe nunggu aja disini sampai hujan reda. Sampai loe jadi blo’on!” seru Vita lalu masuk ke Taksi. Taksi pun melesat di jalan raya meninggalkan Fathir sendirian di halte.
“Gue terpaksa jutek sama loe, Vit! Gue takut perasaan gue berubah ke loe!” ucap Fathir setelah Vita pergi.
Sementara di dalam taksi, Vita bicara sendiri. “Kenapa sih susah banget suka sama loe, Fathir?”
Angel ikut berteduh di dekat halte tempat Fathir berteduh juga. Cuma mereka tidak saling bertemu. Fathir pun keburu pergi dari halte. Di bawah hujan, “Kenapa sih gue harus cinta ma Loe, Vit? Gw tau kita gak mungkin bersatu.” Teriak Fathir.
Sementara Angel juga bicara sendiri, (kebanyakan bicara sendiri nih. Maksudnya dalam hati kali, ya?) kalau dia harus segera ngasih obat ke Abel. Tidak lama kemudian, taksi pun datang dan Angel langsung memberhentikannya, lalu naik menuju rumah Fathir.
Ketika tiba di rumah, dengan baju masih basah kuyup, Fathir masuk ke kamar Abel dan mencium kening adik perempuannya itu. Dia lalu mendapati obat-obatan dan roti di meja dekat kasur Abel, dia juga melihat Abel memeluk boneka yang diberikan Vita untuk Fathir. Akhirnya, Fathir pikir Vita lah yang telah memberikan obat-obatan dan roti tersebut. “Gw makin gak bisa mengendalikan perasaan gw sama loe,” batinnya.
Di rumah Angel, Angel batuk-batuk. Sepertinya ia sakit. Sambil mengusap-ngusap handuk ke rambut yang basah, Angel bergumam tidak apa-apa kalau sakit, asal bisa makin dekat dengan Fathir (kalau Vita mah malah gak ingin Fathir tahu kalau dia dah berbuat baik ke Abel).
Keesokan harinya di sekolah, Fathir bingung dia berterimakasih pada Vita atau tidak. Soalnya, dia kan lagi berusaha jutek sama Vita. Tiba-tiba, Vita datang dari arah berlawanan, Vita berjalan mendekat ke arah Fathir, dan mereka saling tatap-tatapan. Tapi Vita langsung membuang pandangannya ke arah lain.
Angel muncul di belakang Fathir, dia tersenyum-senyum sendiri dan berharap Fathir akan berterima kasih padanya. Dia pun menghampiri Fathir.
“Tumben datang pagi-pagi!” seru Angel.
“Iya, gue kantor OSIS dulu, ya,” kata Fathir langsung meninggalkan Angel. Angel kecewa sekaligus heran, kenapa Fathir tidak berterimakasih kepadanya?
Di koridor sekolah, Ajeng bergumam, kalau sebentar lagi lomba Karya Ilmiah. Dia deg-degan. Yudha datang dari arah berlawanan, dia menghampiri Ajeng tapi tidak bicara apa-apa kepadanya. Sebenarnya dia sedang memasukkan sebuah amplop ke dalam tas Ajeng, hanya saja Ajengnya tidak sadar. Yudha pergi setelah itu, dia berdiri di belakang Ajeng yang memunggunginya. Ajeng heran, seharusnya Yudha bicara apa kek kepadanya, karena Ajeng akan lomba karya Ilmiah. Tapi Yudha malah gak bicara apapun, Ajeng pikir jangan-jangan cewek yang Yudha sukai bukan dia. Ajeng pun langsung melangkah pergi.
Di dalam kelas, Yudha bergumam kalau dia harus datang ke lomba KIR Ajeng. Sementara dia terjebak dalam mata pelajaran geografi. Dia pun punya akal dan melempar kertas ke arah Nakula. Nakula membacanya dan membisiki sesuatu ke Aldo. Tiba-tiba, Nakula menggebrak meja dan marah-marah ke Aldo. Dia berteriak kalau dia gak bermaksud merebut pacar Aldo. Aldo tidak kalah sengit. Seluruh mata di kelas teralihkan, terutama si guru geografi. Si guru pun langsung melerai Aldo dan Nakula, Yudha memanfaatkan kejadian itu untuk kabur dari kelas. Tapi sialnya, di luar kelas ada KepSek lagi menelepon. Yudha pun tidak jadi keluar kelas dan masuk lagi. Ia ingin keluar lewat jendela tapi tetap ketahuan KepSek.
Kala itu mentari bersinar, memanggang Yudha, Aldo, dan Nakula yang sedang lari-lari mengelilingi lapangan, karena dihukum KepSek. Aldo dan Nakula mengeluh ke bosnya, Sudah gagal, ketahuan pula! Mereka bertanya ada apa tapi Yudha tidak bisa menjelaskannya karena tidak ingin menghancurkan hati Nakula. Yudha cuma bisa mendukung dari jauh, sementara Ajeng, walau deg-degan, dia tetap harus bersemangat untuk lomba KIR ini.
Di saat yang bersamaan, Yudha dan Ajeng berseru, “SEMANGAT!” (Kompak terus nih… Hehe.)
Di perpustakaan, Angel sedang menulis sambil terbatuk-batuk. Fathir langsung menghampirinya dan bertanya ada apa? Angel bilang kalau dia sedang menulis catatan untuk Fathir, Angel mengerti kalau Fathir sibuk dengan OSIS jadi tidak sempat mencatat.
“Ya ampun, kamu mencatat sebanyak ini untuk gue?” tanya Fathir. Dia merasa kalau Angel itu baik banget, sementara dia malah tidak menyukainya. Angel lalu terbatuk-batuk lagi, dan Fathir kembali bertanya ada apa? Angel bilang kalau ini karena hujan-hujanan membeli obat untuk Abel. Fathir tersentak. Angel lalu bertanya kabar Abel, apakah Abel baik-baik saja?
Fathir masih terkejut karena ternyata yang membeli obat-obatan itu adalah Angel. Fathir pun memegang dagu Angel yang sedang duduk itu, dan bilang kalau Fathir akan beli obat. Intinya sih khawatir. Tidak lama kemudian, Angel datang dan dia mendehem ke arah mereka. Keduanya tersentak.
“Angel, kamu dipanggil Bu Amanda di Aula,” kata Vita. Lalu pergi.
Di tempat lomba KIR, Ajeng masih terus deg-degan. Cewek disampingnya langsung ngasih dia permen, dan bilang kalau makan permen itu bisa menghilangkan rasa gugup. Mereka pun berkenalan. Ajeng melihat penampilan cewek itu, kayaknya Vaness itu tajir banget. Vanessa, nama cewek itu, bilang kalau dia gugup sekali karena baru pulang dari Amerika. Secara, mata pelajaran di Amerika beda sama di Indonesia. Ajeng makin berdecak kagum, dan bilang kalau Vanessa itu pinter banget. Vanessa cuma tersenyum. Ajeng lalu bertanya Vanessa SMA dimana? Vanessa bilang, SMA Kartini. Kamu sendiri? Ajeng jawab kalau dia SMA di SMA 25. Vanessa terkejut ketika Ajeng bilang tentang SMA 25.
“Katanya kapten basket SMA 25 itu nyebelin banget, ya?” tanya Vanessa. Ajeng mengiyakan, kalau Yudha, si kapten basket emang nyebelin banget. Vanessa lalu minta alamat dan nomor ponsel Ajeng, Ajeng bilang sebentar seraya membuka tasnya. Eh, malah melihat amplop coklat. Karena penasaran, Ajeng membuka amplop surat tersebut. Isinya, foto Yudha lagi megang bola basket. Di bawahnya ada tulisan dari spidol: Kalau loe liat foto ini, loe pasti jadi semangat dan seneng lagi. (kira-kira gitu. Aduh, narsis amat…). Ajeng tersenyum, dan Vanessa bilang kalau dia sok-sokan banget. Ajeng mengiyakan.
Sementara, di Aula, Bu Vanessa bersama anak cheerleaders menyuruh anak-anak bikin proposal untuk acara PENSI. Karina menyarankan kalau mereka buat proposalnya di rumah Vita aja, soalnya bokapnya Vita lagi sering ke luar negeri. Vita menolak kalau membayangkan Angel menginap bersamanya, Angel juga. Mereka secara bersamaan protes ke Bu Amanda. Tapi Bu Amanda malah sangat setuju.
Ketika Ajeng lagi nunggu angkot untuk pulang dari lomba KIR, sebuah mobil berwarna silver dengan nomor polisi B1949UFA menepi di depannya. Kaca depan mobil itu dibuka, itu Vanessa. Dia menawarkan Ajeng pulang bersamanya, Ajeng bilang kalau dia senang punya teman baik kayak Vanessa. Ajeng pun masuk ke dalam mobil silver tersebut.
Di Rumah Vita, Angel bilang semoga proposal ini bisa cepat selesai biar mereka gak usah lagi nginep di rumah Vita. Vita juga bilang semoga proposalnya cepat selesai biar mereka gak usah lagi nginep di rumahnya. Kirana bilang mereka itu kayak anjing sama kucing aja berantem terus.
Tak lama kemudian, terdengar suara bel, Vita langsung menuju pintu untuk membukanya. Sementara Angel mulai batuk lagi dan ingin mengambil air minum dari dapur. Ketika Vita membuka pintu, ternyata itu Fathir yang ingin memberinya proposal yang harus diselesaikan. Mereka berdiri canggung-canggungan. Vita pikir Fathir tidak juga pergi karena tahu ada pacarnya disini. Angel melihat mereka berdua ketika hendak membuka kulkas, dan segera menghampiri mereka.
Karena Angel, Fathir pun tidak segera pulang. Ia terjebak diantara cewek-cewek. Sementara, Angel menghampiri Vita dan bertanya kepadanya, kenapa Vita tidak beritahu Angel kalau Fathir datang? Apa mungkin Vita sengaja? Vita bilang kehadiran Fathir itu gak ngaruh. Lagian rumah ini rumah Vita, jadi terserah Vita. Vita juga bilang kalau rumahnya bukan tempat pacaran. Angel bilang, dia bisa mengusir Fathir kapanpun dia mau.
Angel langsung menghampiri Fathir dan bilang sebaiknya Fathir pulang aja deh. Banyak cewek, gak enak. Fathir langsung menyambut baik, dia juga gak nyaman. Tapi Kirana menahan Fathir dan bilang kalau Angel masih sakit, Fathir harus merawat Angel.
Di rumah Ajeng, Vanessa dan Ajeng lagi ngobrol. Vanessa bilang kalau Ajeng pasti pintar masak. Ajeng bilang kalau rumahnya biasa aja. Tapi Vanessa bilang asalkan penghuninya penuh cinta, rumah ini lebih nyaman. Ajeng bilang kalau Vanessa itu perfect banget, Vanessa bilang kalau gak segitunya juga. Ajeng bilang kalau Vanessa itu beruntung banget, Vanessa bilang kalau dia tidak seberuntung itu. Tapi dia juga tidak ingin banyak mengeluh. Vanessa bilang bagaimana kalau Ajeng menginap di rumahnya aja, soalnya orang tuanya sedang pergi. Ajeng bilang dia harus minta izin tantenya dulu. Vanessa bilang dia bakal bantu.
Di rumah Vita, Angel dan Fathir duduk berdempetan. Mereka kerap diledekin sama cewek-cewek cheerleaders itu. Fathir lalu menyuapi obat ke Angel, ketika itu Vita datang dan memotret mereka. Fathir dan Angel tersentak kaget. Vita lalu bersorak kalau foto itu bakal dipajang di mading sebagai The Best Couple. Vita lalu pergi menjauh dan melihat foto itu sambil menangis, dia bergumam dalam hati kalau dia sudah capek dan ingin berdamai dengan keadaan (sedih…).
Ajeng dan Vanessa menghampiri mobil Vanessa. Ajeng berkata gak nyangka tantenya mengizinkan dia nginep di rumah Vanessa. Mereka pun masuk mobil dan meninggalkan halaman. Setelah itu, Yudha datang dengan motornya. Dia mengetuk pintu berharap ketemu Ajeng tapi gak ada yang menyahut (emang tantenya Ajeng gak ada?). Yudha lalu menelpon Ajeng tapi ponsel Ajeng gak aktif (ponsel Yudha dah ganti. Hehe.).
Di rumah Vita, Marco datang memberikan sesuatu ke anak cheerleaders. Lalu ingin segera pergi tapi ditahan Fathir, Fathir bilang kalau dia ingin ditemenin soalnya disitu cewek semua. Marco awalnya gak mau tapi terus didesak Fathir.
Tidak lama kemudian, Vita bilang dia ngundang satu teman lagi. Dan Lisa muncul tapi semuanya lagi bete sama Lisa. Vita bilang, kita harus bisa memaafkan Lisa. Fathir kagum sama Vita, biarpun Vita cewek manja tapi Vita itu punya hati yang lapang. Vita kembali meramaikan suasana dengan menyuruh Fathir dan Marco menari seperti cheerleaders. Vita pun menggerak-gerakkan lengan Fathir, dan Angel terlihat cemburu.
Beberapa saat kemudian, ponsel Lisa berdering. Vita memanggil Lisa tapi Lisa gak juga datang. Akhirnya Vita memutuskan sambungannya, eh, malah ada foto-foto Ajeng sama Yudha lagi main layangan. Vita heran bukan main. Dan ketika itu Lisa datang…
CINTA SUDAH TERLAMBAT
Seminggu setelah lebaran, Dhika dan temen-temannya berniat akan menjenguk Riki, pacar sahabatnya yang bernama Sherly. Rumah mereka tidak terlalu jauh, jadi mereka memutuskan untuk berjalan kaki menuju rumah Riki. sesampainya dirumah Riki dia bingung melihat kedatangan teman - temannya itu. Lama mereka bercengkrama, tiba-tiba datang lagi dua cowok kerumah riki. Mereka adalah Ervin dan Wawan, mereka merupakan alumni SD-SMP dika dan sherly. Saat itu Ervin dan Dika saling bertatap muka, kemudian Ervin dengan gaya playboynya langsung minta nomer HP dika. Sudah lama mereka berbincang-bincang hingga waktu menunjukkan jam sembilan malam. Adik Dika pun mengajak pulang, akan tetapi Dika ditarik tangannya sama Ervin. Ervin menggenggam tangan dika dengan eratnya, seakan tidak mau kalau Dika pergi. Dkhirnya dika tinggal lebih lama dirumah Riki, dan pulangnya diantar sama Ervin yang benar-benar malu-maluin Dika. Berani-beraninya dia megang tangan Dika dari rumah Riki sampai rumah Dika, padahal Ervin sendiri tau kalau ika mantan Bima yang terkenal kejam pada semua cowok yang coba-coba mendekati Dika.
Keesokan harinya, Sherly pamitan sama Dika karena dia akan kembali kerumahnya diJakarta. Hari itu Dika benar-benar merada kesepian banget tanpa sahabat yang selalu bersamanya. Hingga malam harinya, tiba-tiba Ervin datang kerumah Dika bersama Wawan, dia berniat mengajak dika menonton konser dekat rumahnya. Sebenarnya Eika nggak terlalu suka dengan acara seperti itu, tapi karena dirumahnya juga tidak ada orang, dika terpaksa ikut. Dikonser itu Ervin benar-benar jagain Dika, karena dia tahu kalau dika paling gak suka keramaian. Waktu sudah menunjukan pukul 01:00 wib, dan kini saatnya dika pulang kerumah karena sudah larut malam.
Dua hari ini, Dhika dirumah saudaranya di Tegal karena ada acara keluarga. Sebenarnya waktu malam minggu Erfin berniat untuk kerumah Dhka, tapi berhubung Dhika tidak dirumah, Erfin nekad menyusul Dhika kerumah saudaranya di Tegal. Dhika pun bingung melihat kedatangan Erfin secara tiba-tiba kesitu. Akhirnya Dhika pun terpaksa ikut pulang bersamanya.
Seminggu sudah Dhika dan Erfin menjalani aktivitas masing-masing. Tadinya Dhika berfikir kalau Erfin benar-benar sudah tidak akan menghubunginya lagi. Ternyata pada saat malam minggu dia datang, Dhika pun heran terbengong-bengong melihat kedatangannya.
“Ngapain kamu kesini ...?” tanya Dhika kebingungan.
“Ya mau maen lach, nggak boleh ya …?” jawab Erfin sembari bergurau.
“Boleh-boleh aja sich, tapi aku kaget aja lihat kamu tiba-tiba kesini tanpa ngasih tau lebih dulu ama aku …”
“Whahahaha” Erfin tertawa puas melihat kebingungan Dhika, kemudian melanjutkan lagi omongannya yang sempat terputus karena menahan tawanya “Itu semua kejutan untukmu, tau …!!!”
“Resek loe !!!” sambil memukul bahu Erfin saking kesalnya “Udah duduk sini …” lalu meraka berdua pun duduk di beranda rumah Dhika sambil bergurau.
Lama mereka membicarakan hal-hal yang aneh, tentang sekolah mereka, teman-teman mereka, pokoknya semuanya dech. Sebenarnya pada malam tuch juga Erfin mau mengatakan sesuatu yang di anggapnya penting sama Dhika, tapi berhubung Dhika ngomongnya “NGECUIS”, Jadi Erfin canggung untuk ngomong saat itu. Hingga akhirnya Erfin ngomong lewat telephone di kemudian hari.
“Nox, sebenarnya malam minggu kemarin aku mau ngomong hal terpenting ama kamu low …” kata Erfin memulai pembicaraan.
“Oh ya, emang mau ngomong apa …?” tanya Dhika ingin tahu.
“Jujur dari awal waktu aku ketemu kamu dirumah Riky, aku udah ngerasa suka sama kamu, dan kemarin tuch sebenarnya aku mau ngungkapin semuanya.”
“Lha kenapa nggak kamu ungkapin …?”
“Gimana aku mau ngungkapin, kamu aja ngomongnya’NGECUIS’ gitu, aku nggak enak donx ngomongnya”
Dua hari ini, Dhika dirumah saudaranya di Tegal karena ada acara keluarga. Sebenarnya waktu malam minggu Erfin berniat untuk kerumah Dhka, tapi berhubung Dhika tidak dirumah, Erfin nekad menyusul Dhika kerumah saudaranya di Tegal. Dhika pun bingung melihat kedatangan Erfin secara tiba-tiba kesitu. Akhirnya Dhika pun terpaksa ikut pulang bersamanya.
Seminggu sudah Dhika dan Erfin menjalani aktivitas masing-masing. Tadinya Dhika berfikir kalau Erfin benar-benar sudah tidak akan menghubunginya lagi. Ternyata pada saat malam minggu dia datang, Dhika pun heran terbengong-bengong melihat kedatangannya.
“Ngapain kamu kesini ...?” tanya Dhika kebingungan.
“Ya mau maen lach, nggak boleh ya …?” jawab Erfin sembari bergurau.
“Boleh-boleh aja sich, tapi aku kaget aja lihat kamu tiba-tiba kesini tanpa ngasih tau lebih dulu ama aku …”
“Whahahaha” Erfin tertawa puas melihat kebingungan Dhika, kemudian melanjutkan lagi omongannya yang sempat terputus karena menahan tawanya “Itu semua kejutan untukmu, tau …!!!”
“Resek loe !!!” sambil memukul bahu Erfin saking kesalnya “Udah duduk sini …” lalu meraka berdua pun duduk di beranda rumah Dhika sambil bergurau.
Lama mereka membicarakan hal-hal yang aneh, tentang sekolah mereka, teman-teman mereka, pokoknya semuanya dech. Sebenarnya pada malam tuch juga Erfin mau mengatakan sesuatu yang di anggapnya penting sama Dhika, tapi berhubung Dhika ngomongnya “NGECUIS”, Jadi Erfin canggung untuk ngomong saat itu. Hingga akhirnya Erfin ngomong lewat telephone di kemudian hari.
“Nox, sebenarnya malam minggu kemarin aku mau ngomong hal terpenting ama kamu low …” kata Erfin memulai pembicaraan.
“Oh ya, emang mau ngomong apa …?” tanya Dhika ingin tahu.
“Jujur dari awal waktu aku ketemu kamu dirumah Riky, aku udah ngerasa suka sama kamu, dan kemarin tuch sebenarnya aku mau ngungkapin semuanya.”
“Lha kenapa nggak kamu ungkapin …?”
“Gimana aku mau ngungkapin, kamu aja ngomongnya’NGECUIS’ gitu, aku nggak enak donx ngomongnya”
“Ngecuis …? Bahasa mana tuch …? Lagian Kalau nggak enak tinggal kasih kucing aja”
“Ealah, aku serius, NGECUIS tuch artinya ngomongnya nggak berhenti-berhenti, tyuz apa jawabanmu …?”
“Hmmm” Dika menghela napas pelan, kemudian melanjutkan omongannya “Aku akan jawab kalau kita ketemu, beri aku waktu untuk berfikir ya …”
“Oke nox … aku akan selalu menunggumu …”
Dhika orangnya memang tidak bisa di ajak serius, apapun yang dibicarakan pasti di anggapnya sebagai hal yang sepele. Dan saat di tembak Erfin pun Dhika sama sekali tidak meresponnya, karena dari awal dia memang nggak punya perasaan yang lebih sama Erfin.
Hari berganti hari, dan entah kenapa akhir-akhir ini Erfin dan Dhika selalu bertemu meskipun tidak di rencanakan. Dan yang lebih parahnya lagi, Dhika selalu mengalihkan pembicaraan jika Erfin menanyakan jawaban perasaannya. Dhika bingung karena Erfin mantan sahabatnya sendiri yang bernama Gita, tapi Gita malah mendukung mereka agar bisa jadian. Selain Gita, temana-teman dan sahabat-sahabatnya yang lain pun menyarankan untuk coba jalani dulu hubungan itu, siapa tahu dengan berjalannya waktu, rasa sayang itu tumbuh dengan sendirinya.
Seminggu sudah Dhika berfikir, dan kini Dhika akan menjawab perasaan Erfin.
“Nox, sudah seminggu lebih aku menanti jawabanmu. Sudah siapkah kau menjawabnya …?”tanya Erfin tidak sabar.
“Hmmm …” Dhika menarik napas panjang “Jujur aku belum mengenalmu lebih dalam lagi, tapi aku akan mencoba jalani semuanya dulu .” jawab Dhika terbata-bata.
“Maksudmu …? Aku diterima …?” tanya Erfin meyakinkan.
“Ha’a. Tapi tolomg buat aku sayang sama kamu, agar kamu nggak ngerasa kalau cinta mu bertepuk sebelah tangan.” Pinta Dhika.
“Pasti nox, PASTI …” jawab Erfin kegirangan.
Akhinya mereka pun jadian, dan ternyata hari jadi mereka bertepatan dengan ulang tahun Erfin yang ke 18, sungguh kado terindah yang belum pernah Erfin dapatkan selama ini.
Hubungan mereka sungguh sangat membuat orang heran. Mereka memang pasangan yang berbeda dengan pasangan lainnya. Hubungan persahabatan, persaudaraan, dan sepasang kekasih dirangkap jadi satu dalam hubungan yang mereka jalani sekarang. Bayangkan saja, setiap ketemu kadang romantis dan saling memuji, kadang lucu, bahkan kadang juga saling menjelek-jelekan. Saat romantis mereka nggak mau pisah tangan, maunya gandengan tangan terus, saat lucu mereka gokil-gokilan dan narsis pula, saat menjelek-jelekan, pasti yang di bawa-bawa nama sekolah maupun kekurangan masing-masing. Tapi dengan cara seperti itulah rasa sayang Dhika mulai tumbuh dan dia tidak mau kehilangan Erfin seperti saat dia kehilangan Bima.
Hampir satu bulan penuh hubungan mereka tidak ada kendala apapun. Tapi pagi itu Erfin ngomong kalau dia ingin putus sama Dhika. Dhika syok melihat sms dari Erfin, seakan-akan dia nggak percaya kalau yang sms tuch Erfin. Dalam sms itu Erfin mengatakan katanya rasa sayangnya sama Dhika semakin hilang, tapi kalau memang seperti itu kenyataannya, kenapa kemarin-kemarin dia ngelakuin hal-hal yang bikin Dhika sayang sama dia kalau akhirnya dia akan memutuskan Dhika.
“Kenapa kamu ingin memutuskan aku …? Apa semua itu ada hubungannya dengan debat kita yang kemarin …?” tanya Dhika.
“Bukan, tapi rasa sayang aku udah mulai hilang sama kamu, sebenarnya aku ngerasain ini udah lama. Dan aku juga nggak bisa bikin kamu sayang sama aku” kata Erfin menjelaskan.
“Kalau memang begitu,kenapa nggak dari kemarin-kemarin kamu mutusin aku …?”
“Aku takut kamu kecewa dan membenci ku.”
“Kamu salah, justru kalau kamu ngomong sekarang, aku benar-benar benci sama kamu. Kamu tahu kenapa ? Karna sekarang aku sudah mulai menyayangimu.”
“Apa …?”
“Nggak usah kaget gitu, kamu pasti sekarang merasa puas udah bikin hati aku sakit, iya kan …?”
“Bukan begitu, tapi …”
“STOP … Aku nggak mau dengar apa-apa lagi dari mulut mu.”
“Maafkan aku, sekarang aku ngerasa bersalah karna udah bikin kamu menangis hanya karna aku.”
Hati Dhika benar-benar teriris, hampir seharian penuh Dhika menangis.
“Kenapa disaat aku sudah mulai menyayanginya, dia tega ninggalin aku gitu aja… aku nggak kuat nahan air mata ini, dia benar-benar udah bikin aku ngeluarin air mata yang selama ini nggak pernah aku keluarin semenjak putusnya aku sama Bima. Aku nggak akan ngelupain hari ini, hari dimana aku nangis buat orang yang nggak pernah menghargai perasaan orang lain. Aku nyesel pernah kenal dan sayang sama dia.”
Itulah kata terakhir yang di ucapkan Dhika semenjak hubungannya dan Erfin berakhir. Dan kini Dhika tidak percaya lagi dengan omongan cowok yang suka sama dia. Sekalipun dia begitu baik, tapi cowok tetaplah cowok. Bagaikan ikan, meskipun sudah di beri ikan yang enak, tapi kalau ada ikan asin pasti akan tergiur juga, sama halnya dengan cowok.
Hargailah orang yang menyayangimu dan selalu ada buatmu sekarang, sebelum kamu kehilangan dia dan merasakan sayang yang lebih dari sayangnya kepadamu. Sakit memang kehilangan orang yang sangat kita sayangi. Tapi percayalah, kebahagiaan akan datang menghampirimu dengan sendirinya. Jadi jangan menyerah kalau kebahagiaan yang kamu inginkan itu belum juga kamu dapatkan, tetaplah berusaha untuk mewujudkannya.
CAYO !!!!!!!!!!!!!.................
Langganan:
Postingan (Atom)